Apr 15

Nama-Nama Korban dibacakan Pada Acara Peringatan Teror Christchurch

Nama 50 orang korban yang tewas dalam penembakan keji di 2 buah masjid di Christchurch, Selandia Baru, beberapa waktu lalu, menggema dalam acara upacara peringatan terror itu. Upacara tersebut dihelat di Hagley Park, pada Jumat (29/3).

Kejahatan Berdasar Kebencian adalah Musuh Bersama, Ungkap Ardern

Ribuan orang pasalnya berdiri dalam hening saat kelima puluh nama korban yang tewas dalam terror Christchurch, di Masjid Al Noor dan Masjid Lindwood pada tanggal 15 Maret 2019 tersebut dibacakan. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan bahwa kejahatan berdasarkan kebencian merupakan musuh bersama.

“Sekarang tantangan kita adalah berusaha sebaik mungkin dalam keseharian karena kita tak imun pada virus kebencian, ketakutan dan orang lain,” ungkap Ardern sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.

Di hadapan perwakilan pemerintah dari beberapa Negara asing, ia lalu mengatakan bahwasanya lingkaran ekstrimisme seperti ini Cuma bisa dihapuskan dengan kerja sama global. “Jawabannya terletak di konsep judi slot online sederhana yang tak terpaku pada batasan domestic, tak berdasarkan pada etnis, kekuasaan atau bahkan format pemerintahan. Jawabannya ada pada kemanusiaan,” ungkapnya lagi.

Mendengar pidato yang disampaikan oleh Ardern, seorang yang menghadiri upacara tersebut, bernama Farid Ahmed, terus saja mengangguk. Farid Ahmed adalah salah satu yang berduka karena istrinya, Husna, menjadi salah satu korban tewas dan ia pun mengaku telah memaafkan pelakunya.

Ia mengatakan bahwa ia tak mau lagi memiliki “hari yang panas mendidih layaknya gunung berapi. Saya ingin memiliki hati yang penuh cinta dan kepedulian, penuh kasih dan memaafkan, dengan mudah karena hati itu tak ingin ada lagi nyawa yang hilang.” Kemudian ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama guna menciptakan perdamaian. Ia pun meminta semuanya mengubah cara pandang dengan menganggap semuanya sebagai keluarga.

“Saya mungkin saja berasal dari satu kultur, kalian dari kultur yang lainnya. Saya mungkin saja punya satu kepercayaa, kalian juga punya kepercayaam. Tapi jika bersama, kita adalah sebuah taman yang indah,” ungkapnya.

Selandia Baru Gelar Operasi Intilijen Pasca Teror Christchurch

Menanggapi terror yang terjadi tanggal 15 Maret 2019 tersebut, pemerintah Selandia Baru memutuskan untuk menggelar operasi intelijen. Operasi ini adalah bentuk keseriusan pemerintah Selandia Baru memberantas terorisme. operasi besar-besaran ini menindaklanjuti kecurigaan bahwa peran badan mata-mata Negara tersebut dipertanyakan karen tak mampu mengungkap potensi kekerasan dari kelompok potensi kekerasan dari kelompok supremasi kulit putih. Mereka juga disebut terlalu focus pada pengawasan kalangan radikal Islam.

“Saya telah memberikan wewenang pada seluruh lembaga terkait untuk menggelar aktivitas mata-mata yang memang agak mengganggu berlandaskan surat perintah, jumlahnya surat perintahnya tak bisa saya sampaikan,” ungkap Andrew Little, Menteri Bidang Intelijen, dalam wawancara dengan sebuah radio di Selandia Baru, dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (27/3).

Little pasalnya memimpin dua badan intelinjen Selandia Baru yaitu SIS dan GCSB. Menurutnya, selama ini mereka Cuma mengawasi sekitar 30 sampai dengan 40 orang yang terlibat dalam gerakan radikal sayap kanan dan juga supremasi kulit putih.

Namun, jumlah orang yang diawasi itu ada karena diduga terlibat gerakan sayap kanan di Negara tersebut akan bertambah. Menurutnya juga, mereka akan memantau bahkan tiap jengkap aktivitas dengan cara menyadap arus komunikasi orang-orang tersebut dan juga membuntutinya. Diharapkan cara ini jauh lebih efektif dari langkah yang pernah ditempuh sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.